Sunday, May 10, 2009

Setiap Gambar Mempunyai Cerita Tersendiri

KETIKA kamera diperkenalkan pertama kali pada tahun 1800-an, seluruh proses foto yang kita kenal sekarang ini membutuhkan waktu serta pengerjaan yang lama. Mereka yang "mejeng" di depan kamera harus diatur duduknya, sang fotografer pun harus bolak-balik sebelum bersembunyi di balik kain penutup film yang harus dilindungi dari pencahayaan dari luar. Pria berbusana Jawa dengan blangkon dan berkumis tebal berdiri di sebelah istrinya yang berkain duduk di atas bangku di kelilingi anak-anaknya, harus berdiri diam dan tidak boleh bergerak selama 20 menit agar fotonya bisa diambil. Nyata sekali bedanya dengan keadaan sekarang menggunakan kamera digital yang segera bisa dilihat hasilnya dan bisa disebar ke seluruh dunia menggunakan jaringan Internet.

Film konvensional dan kamar gelap masa lalu sekarang ini telah ditransformasikan ke dalam berbagai kamera digital dan perangkat lunak untuk mengedit foto-foto digital. Popularitas kamera digital sekarang ini memang luar biasa, yang menurut laporan survei yang dibuat oleh Info Trends Research Group (www.infotrends-rgi.com) memperkirakan penjualan kamera digital tahun lalu mencapai 17,6 juta unit atau setara dengan 21 persen dari seluruh kamera yang terjual.

Pada tahun 2006 nanti, diperkirakan akan mencapai 63 persen dari total seluruh kamera yang disediakan pasar di seluruh dunia. Memang ungkapan every picture still tells a story masih tetap berlaku, tetapi album keluarga yang kita sekarang ini mengalami redefinisi menyeluruh mengubah berbagai pengenalan, pengalaman, dan pemahaman kita tentang gambar itu sendiri.

Bayangkan, seseorang sekarang ini memungkinkan untuk memiliki ribuan buah foto digital dan tidak perlu pusing dengan cara penyimpanannya. Ambil saja kita memiliki sekitar 10.000 buah foto digital. Dalam cara konvensional, jumlah foto ini mungkin memerlukan beberapa truk album foto. Dalam era digital, yang dibutuhkan adalah sebuah monitor serta sebuah komputer PC yang sederhana.

Monitor dengan layar LCD sekarang ini bisa kita bingkai dan letakkan di ruang tamu atau kamar makan keluarga, di mana 10.000 foto digital ini digerakkan komputer PC yang murah akan menampilkan tayangan slide setiap tiga detik. Bandingkan kalau semua foto yang kita miliki ini harus dibingkai dan dipajang di atas piano, yang muncul adalah fotonya menjadi tidak terlihat sama sekali dan pianonya sendiri mungkin hilang tertutup oleh ribuan bingkai.

Prangko

Kamera digital bekerja seperti kamera konvensional 35 mm yang kita kenal sekarang ini. Gambar yang terfokus pada sebuah frame film yang sensitif terhadap cahaya, sekarang ini direkam dalam sebuah chip elektronik seukuran prosesor yang kita kenal pada komputer PC. Lensa kamera memfokuskan gambar pada chip seukuran prangko ini yang disebut sebagai Charge Coupled Device atau CCD. Sekeping CCD terisi penuh dengan sel-sel sensitif yang mengubah warna dan cahaya menjadi sinyal elektronik yang bisa disimpan sebagai sebuah gambar digital yang utuh.

Sekeping CCD biasanya diukur dengan megapiksel, di mana semakin tinggi angkanya menunjukkan semakin rinci sebuah gambar yang bisa direkam oleh sebuah kamera digital. Cuma bagi para konsumen awam, perlu dicermati kalau semakin tinggi resolusi sebuah kamera digital, biasanya semakin mahal harganya. Selain itu, hasil gambarnya pun belum tentu menampilkan kualitas yang lebih baik. Sebuah kamera digital dengan 2,3 megapiksel sudah cukup memadai untuk penggunaan sehari-hari.

Setelah CCD merekam gambar digital, sinyal elektronik ini kemudian disimpan dalam file digital ke memori chip lain untuk bisa dipindahkan ke komputer PC. Memori chip yang digunakan pada kamera digital ini berupa kepingan empat persegi panjang terbuat dari plastik, logam, atau sejenisnya yang bisa dikeluarkan dari sebuah kamera digital seperti halnya mengganti rol film pada kamera konvensional.

Masing-masing memori chip ini mempunyai kapasitasnya sendiri, seperti halnya sebuah rol film 35 mm memiliki ukuran 24 atau 36 exposure. Perbedaannya, dengan perkembangan teknologi yang sekarang ada, jumlah gambar digital yang bisa direkam menjadi tidak terbatas. Bayangkan saja, sebuah memori chip berukuran 256 MB pada kamera digital Canon PowerShot G2 pada resolusi 2.272 X 1.704 piksel bisa mengambil 124 buah gambar digital pada kompresi tinggi (pada kompresi rendah bisa mencapai 445 buah gambar).

Sedangkan pada resolusi 640 X 480 piksel (resolusi yang umum digunakan untuk menampilkan tayangan gambar di jaringan Internet) dengan kompresi tinggi bisa menghasilkan 965 buah gambar. Untuk kompresi rendah, jumlah ini bisa mencapai 2.730 buah gambar digital. Dalam format ini artinya kira-kira setara dengan 75 rol film konvensional.

Aspek pilihan

Ada beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan dalam memilih dan memiliki kamera digital dewasa ini. Yang paling mudah adalah membelinya dengan memilih merek yang terkenal di pasaran. Karena, berbagai perusahaan pembuat kamera konvensional sekarang ini, sudah mulai mengembangkan dan memproduksi kamera-kamera digital yang canggih dengan berbagai kemajuan teknologi yang sekarang ada.

Aspek lainnya adalah megapiksel, namun perlu memperhatikan segi kebutuhannya sendiri. Kalau untuk keperluan pribadi dan tidak ada kaitannya dengan proses produksi cetak mencetak profesional seperti yang dilakukan Harian Kompas, sebuah kamera digital dengan 2-3 megapiksel sudah cukup memadai. Di luar jumlah megapiksel ini akan berkaitan dengan proses pembesaran, kualitas gambar, dan sejenisnya. Tetapi, megapiksel sendiri tidak berarti foto digital yang dihasilkan selalu mempunyai kualitas yang baik.

Aspek lain yang juga penting adalah daya tahan baterai, kemampuan memori chip, serta ketersediaan asesorinya. Kamera digital banyak menggunakan tenaga elektronik, sehingga daya tahan baterai atau kamera digital yang bisa menggunakan baterai alternatif perlu menjadi pertimbangan. Kapasitas penyimpanan gambar digital juga menjadi penting, karena di pasaran sekarang ini ada beberapa jenis, di antaranya adalah CompactFlash dan SmartMedia yang masing-masing memiliki daya tahan dan kemampuannya tersendiri.

Asesori yang ikut ke dalam kamera digital ini memungkinkan kita untuk mengambil berbagai foto dari berbagai sudut, jarak, pencahayaan, serta lainnya. Dan yang terpenting, dan ini yang aneh, adalah lensa. Dari semua teknologi dalam kamera digital, hanya lensa yang tidak mengalami perubahan dan terus berjaya dalam eranya sendiri. Ini terlihat, misalnya, berbagai merek kamera digital masih tetap menggunakan lensa-lensa buatan pabrik ternama seperti Carl Zeiss yang sudah seabad menggeluti bidang ini.

Kertas foto

Sekarang ini memang masih menjadi perdebatan di kalangan fotografer maupun orang awam apakah bermigrasi dan mulai menggunakan kamera digital atau bertahan menggunakan kamera konvesional. Keinginan untuk menggunakan kertas foto dengan glossy paper atau berpindah ke harddisk yang hanya memungkinkan untuk dilihat saja pada sebuah layar monitor memang terus berkepanjangan.

Polemik yang muncul antara lain adalah daya tahan foto itu sendiri. Penggunaan film konvensional, dan ini sudah terbukti, ternyata berdaya tahan lebih lama ketimbang gambar-gambar digital yang sekarang menyebar secara cepat di seluruh dunia. Kalau disimpan secara memadai, sebuah foto berwarna konvensional yang dicetak dari film negatif bisa bertahan selama 75 tahun tanpa gambarnya memudar.

Sedangkan arsip foto yang disimpan di dalam perangkat asesori komputer mulai dari harddsik ternyata tidak mudah untuk disimpan. Ini disebabkan bukan hanya karena harddisk di dalam komputer PC seringkali mengalami gangguan teknis, tetapi foto-foto yang kita simpan bisa hilang sama sekali kalau mengalami crash pada harddisk. Memang ada alternatif untuk menyimpan ke dalam CD-ROM, misalnya, tetapi ini artinya sama dengan mengeluarkan biaya yang lain.

Belum lagi, dengan menggunakan kamera digital kita cenderung untuk mengambil gambar apa saja dan menyimpannya semua ke dalam harddisk. Dan ini membuat kita mengalami kesulitan bagi yang memiliki lebih dari 1.000 foto digital yang kadangkala membingungkan ketika harus dicari kembali karena terlalu banyak jumlahnya.

Terlepas dari masalah-masalah ini, kehadiran kamera digital memang mengubah beberapa aspek kehidupan kita mengenal lingkungan di mana kita hidup melalui gambar-gambar secara digital maupun konvensional. Kalau sebelumnya memerlukan waktu untuk bisa menikmati apa yang terjadi di bagian lain dari dunia ini, sekarang dengan kamera digital setiap saat kita bisa mengetahui, menikmati, dan menyaksikan gambar-gambar yang dikirim secara digital ke mana saja. Long Live Digital!

No comments:

Post a Comment