Saturday, May 9, 2009

Berapakah Batas Kecepatan yang Aman

Teknologi dalam bidang otomotif terus berkembang. Kecepatan mobil pun dari waktu ke waktu semakin tinggi. Sehubungan dengan itu, kerap kali muncul pertanyaan tentang berapakah batas kecepatan yang dianggap aman? Ternyata, jawaban atas pertanyaan itu tidaklah mudah dirumuskan. Sangat sulit memberikan suatu jawaban yang baku mengenai hal itu karena sesungguhnya memang tidak ada batasan kecepatan yang dianggap aman dalam mengendarai mobil.

Menjalankan kendaraan dengan kecepatan rendah (kurang dari 60 kilometer per jam) pada jalan di mana kendaraan lain melaju dengan kecepatan tinggi (di atas 100 kilometer per jam) sangat berbahaya. Sebaliknya, melaju dengan kecepatan tinggi, di mana kendaraan lain berjalan dengan kecepatan rendah, juga sangat berbahaya. Sebab itu, jika mau aman, jalankan kendaraan Anda sesuai dengan batas kecepatan yang diizinkan. Dengan kata lain, jika mau aman, kendarailah mobil Anda sesuai dengan kecepatan kendaraan lain. Jadi, yang terpenting bukan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi atau kecepatan rendah, tetapi jalankanlah mobil Anda sesuai dengan kecepatan mobil-mobil lain.

Dalam kaitan itulah batas kecepatan minimum yang ditetapkan dan batas kecepatan maksimum yang diizinkan harus dipatuhi oleh semua pengendara kendaraan bermotor sehingga kecelakaan lalu lintas bisa diminimalkan. Misalnya, batas kecepatan minimum 60 kilometer (km) per jam di ruas jalan tol dalam kota dan luar kota, serta batas kecepatan maksimum 80 km per jam di ruas tol dalam kota dan 100 km per jam di ruas tol luar kota.

Di samping itu, tanda dan rambu lalu lintas yang ada juga harus dipatuhi jika ingin perjalanan berlangsung dengan aman. Misalnya, truk melaju di lajur paling kiri, atau mobil yang berjalan lambat tidak sepatutnya berada di lajur paling kanan, mengingat lajur kanan hanya dikhususkan bagi kendaraan yang akan mendahului, atau jalan menyusul dari bahu jalan, serta menjaga jarak aman dengan kendaraan di depan.

Jarak aman dengan kendaraan lain adalah 1-2 detik. Jika mobil Anda melaju dengan kecepatan 80 km per jam, maka 1-2 detik itu sama dengan 22-44 meter. Jika kecepatan mobil Anda melaju dengan kecepatan 100 km per jam, maka 1-2 detik itu sama dengan 28-56 meter. Dalam kenyataan sehari-hari, dengan mudah ditemui pelanggaran terhadap tanda dan rambu lalu lintas. Mulai dari truk yang melaju di lajur kanan, mobil atau bus mendahului dari bahu jalan, atau mobil, bus, dan truk melaju dengan kecepatan rendah di lajur paling kanan, sampai banyaknya kendaraan yang mengabaikan jarak aman dalam berkendara. Jarak antarkendaraan, terutama di jalan tol, hanya 3-5 meter, padahal jarum spidometer menunjukkan kecepatan 80-100 kilometer per jam. Akibatnya, begitu mobil yang berada di depan karena satu dan lain hal secara mendadak berhenti, tabrakan beruntun pun tidak dapat dihindari.

Semua negara di dunia menetapkan batas kecepatan maksimum di berbagai ruas jalan. Mulai jalan pedesaan, jalan di pusat kota, di pinggiran kota, di jalan raya, sampai di jalan tol. Batas kecepatan maksimum tertinggi yang diizinkan berkisar 100 km per jam sampai 112 km per jam. Selain untuk mengurangi jumlah angka kecelakaan, penetapan batas kecepatan maksimum juga dimaksudkan untuk mengurangi tingkat pencemaran udara. Semakin kencang mobil dipacu, semakin tinggi emisi CO2 yang dilepaskan ke udara.

Tanpa batas
Jerman adalah satu-satunya negara di dunia yang tidak menetapkan batas kecepatan maksimum pada jalan raya utama (autobahn). Akhir Oktober lalu, Kanselir Jerman Angela Merkel menolak seruan dari pembatasan kecepatan maksimum pada 130 kilometer per jam yang diajukan Partai Sosial Demokrat (SPD), salah satu partai koalisi. Seruan pembatasan kecepatan maksimum demi pengurangan emisi gas rumah kaca itu ditolak Merkel dengan alasan kemacetan lalu lintas
sama ancamannya terhadap cuaca dengan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.

Sebelumnya, bulan Maret lalu, Jerman juga menolak seruan Uni Eropa untuk menerapkan batas kecepatan maksimum pada autobahn. Juru bicara Kementerian Transportasi Jerman mengatakan, penetapan batas kecepatan maksimum di autobahn pada 100 km per jam hanya akan mengurangi emisi CO2 sebanyak 0,6 persen. Lagi pula, Jerman sudah memberlakukan pembatasan kecepatan maksimum pada 98 persen ruas jalan yang ada. Itu sebabnya, jangan heran jika di autobahn, mobil bisa dipacu dengan kecepatan lebih dari 200 km per jam. Pemerintah Jerman percaya bahwa angka kecelakaan lalu lintas dan pencemaran udara dapat dikurangi dengan teknologi, dan bukan dengan pembatasan kecepatan maksimum.

Secara umum bisa dikatakan bahwa semakin cepat mobil dipacu, semakin fatal risiko yang dialami pengendara atau penumpangnya apabila terjadi kecelakaan. Namun, dalam kenyataan, kejadiannya tidak selalu seperti itu. Fatal atau tidaknya risiko yang dialami pengendara dan penumpang sangat ditentukan oleh mobil yang digunakan. Seorang pengendara yang baik tidak dapat melindungi dirinya dan penumpangnya apabila terjadi kecelakaan, tetapi mobil yang baik dapat
menyelamatkan orang-orang yang berada di dalamnya.

Dalam Grand Prix Kanada di Montreal, 10 Juni 2007, mobil balap F1 BMW Sauber yang dikendarai Robert Kubika asal Polandia menghantam tembok dengan kecepatan di atas 250 kilometer per jam, setelah tersenggol mobil Jarno Truly dari Toyota. Begitu kerasnya mobil Kubica menghantam tembok beton itu, menjadikan tidak ada yang tersisa dari mobil tersebut kecuali kokpit monokok (monocoque) tempat dia duduk. Namun, Kubika selamat. Ia hanya mengalami gegar otak ringan dan kakinya terkilir.

A safe car protect people, and a safe car is more save with safe driver (Sebuah mobil yang aman melindungi orang, dan sebuah mobil yang aman akan menjadi lebih aman dengan pengendara yang memerhatikan keamanan). Kata-kata bijak itu perlu dicamkan oleh setiap pengendara mobil.

Melelahkan
Seperti yang telah dibahas di atas, bahwa menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi tidak berbahaya jika itu dilakukan di ruas jalan di mana mobil-mobil lain pun melaju dengan kecepatan tinggi. Namun, perlu diingat bahwa untuk menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi diperlukan pengalaman dan fisik yang bugar. Memacu mobil dengan kecepatan tinggi itu melelahkan karena memerlukan konsentrasi yang tinggi. Semakin cepat mobil dipacu, semakin sempit sudut pandang pengendara, dan semakin tinggi kesiagaannya (untuk dapat bereaksi secara benar dan dalam waktu yang tepat).

Kodrat sebagai makhluk pejalan kaki menjadikan manusia mempunyai keterbatasan dalam melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi. Setelah memacu mobil dengan kecepatan tinggi selama dua jam penuh, pengendara disarankan untuk beristirahat sehingga ia tetap dapat bereaksi secara benar dan dalam waktu yang tepat. Bahkan, seorang pembalap Lomba Ketahanan 24 Jam Le Mans yang berpengalaman diwajibkan untuk beristirahat setelah mengemudikan mobil balapnya selama 4 jam tanpa jeda. Dan, secara keseluruhan, pembalap itu hanya diizinkan mengendarai mobil balapnya selama 14 jam.

No comments:

Post a Comment